Jumat, 10 Juni 2016

PELOPOR BAGI-BAGI TAKJIL

Tahukah Anda, siapakah orang yg pertama kali membagi-bagikan takjil di bulan Ramadan?

Ia adalah Sayyiduna Ubaidullah bin Abbas, adik kandung Sayyiduna Abdullah bin Abbas dg selisih usia satu tahun, sepupu Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Bila al-Fadhal rupawan dan Abdullah cendekiawan, maka Ubaidullah dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yg sangat dermawan. Lengkaplah kemuliaan keluarga al-Abbas. Bentuk2 kemurahhatian Ubaidullah banyak dikisahkan dalam sejarah. Tercatat, beliaulah orang pertama yg bagi-bagi takjil pada bulan Ramadan dalam sejarah Islam.

"Beliaulah orang yang pertama kali memberi makan buka kepada para tetangganya pada bulan Ramadan. Orang pertama yang menaruh hidangan di jalanan. Orang pertama yang memanggil, 'Ayo makan!'. Dan orang pertama yang mengumbar makanan untuk jadi rebutan." Kata Abdul Qadir al-Baghdadi mengutip Ibn Abdi Rabbih.

Sebentuk living hadis yg terus berlangsung dan berkembang dr generasi ke generasi.

RadliyaLlâh Ta'âlâ 'anhum ajma'în..

Oleh Ust Muhammad Al-Faiz

Sayyidina Imam Bukhari mimpi bertemu Rasulullah saw .


Beliau adalah seorang imam terkemuka ahli hadits. Namanya adalah Muhammad bin Ismail Al Bukhari. Gelarnya adalah Amirul Mukminin fil Hadits yang artinya Pembesar Kaum Mukminin dalam ilmu hadits. Beliau mengarang kitab yang seluruhnya berisi hadits-hadits shahih. Beliau wafat pada tahun 256 H.
Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf Al Fibrari, ia berkata, ‘Aku mendengar Najm bin Fadhil, seorang ahlul ilmi berkata, “Aku bermimpi melihat nabi SAW keluar dari kota Masiti, sedangkan Muhammad bin Ismail Al Bukhari berada di belakangnya, dimana bila nabi SAW melangkahkan kakinya, Al Bukhari pun melakukan hal yang sama dan meletakkan kakinya di atas langkah nabi SAW dan mengikuti bekas langkahnya.”

Diriwayatkan dari Muhammad bin Muhammad bin Makki, ia berkata, “Aku mendengar Abdul Wahid bin Adam Ath-Thawwisi berkata, ‘Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW dan sekelompok sahabatnya, beliau sedang berhenti di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam dan beliau menjawabnya. Aku bertanya, ‘Kenapa engkau berhenti, Ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Aku menunggu Muhammad bin Ismail Al Bukhari.’ Dan setelah beberapa hari datang berita kepadaku tentang wafatnya Al Bukhari. Setelah aku perhatikan, ia wafat pada waktu aku mimpi bertemu Rasululah SAW.”

Mimpi bertemu Nabi saw sangat mungkin terjadi bagi seorang waliyullah  .

Mimpi sayyidina Imam Syafii bertemu Rasulullah saw

“Imam asy-Syafi`i r.a. berkata:

  “Aku telah bermimpi melihat Junjungan Nabi s.a.w. tatkala aku berusia 7 tahun. Junjungan Nabi s.a.w. bersabda kepadaku: “Wahai Syafi`i, adakah engkau tahu siapa aku?” Lalu jawabku: “Aku daripadamu dan engkau daripadaku, Ya RasulAllah.” Maka Junjungan Rasulullah s.a.w. pun meletakkan mulut baginda ke mulutku sehingga bercampur air ludahku dengan air ludah baginda, lalu aku mengetahui ilmu-ilmu yang ada di antara langit dan bumi (yakni ibarat bagi terbukanya pintu keilmuan yang luas). Ketika gementar aku, baginda meletakkan tangannya ke dadaku lalu tenanglah zahirku dan terpancarlah ilmu dari batinku.”

(Huna Madrasatu Muhammad s.a.w.”, halaman 48)

Rabu, 08 Juni 2016

IMAM AL QURTHUBI BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLAH BERJUMPA NABI S.A.W. SECARA TERJAGA

Oleh sebagian kaum sufahaa ( lemah akalnya/wahhabi-salafi ) cerita ini dianggapnya khurafat dan dusta .
  
  imam al-Qurthubi (578-656 H). Beliau dalam salah satu kitabnya BERSUMPAH pernah berjumpa kepada Nabi shallahu‘alaihi wa sallam secara sadar (bukan tidur) yang sebelumnya beliau mimpi terlebih dahulu. Sejarah ini di ambil dari kitab al-Mufhim karya beliau .

Berikut sejarah AL-Mufhim lima asykala min talkhish kitab Muslim karya Imam Qurthubi

   “ Sungguh hal ini (mimpi lalu menjadi kenyataan) SERING terjadi padaku beberapa kali, di antaranya : Ketika aku sampai ke Tunis, bermaksud untuk berangkat haji, aku mendengar kabar buruk tentang negeri Mesir dari musuhnya yang telah menguasai Dimyath. Maka aku rencanakan untuk menetap sementara di Tunis hingga sampai selesai dari urusan musuh. Kemudian aku bermimpi berada di masjid Nabi dan aku duduk di sisi Mimbarnya. Dan beberapa orang memberi salam kepada Nabi shallahu ‘alaihiwa sallam. Tiba-tiba seseorang mendatangiku dan menegorku “ Berdirilah dan ucapkan salam kepada Nabi “. Maka buru-buru aku ucapkan salam kepada Nabi dan aku terbangun dari tidurku dan lisanku masih mengucapkan salam kepada Nabi. Maka Allah memberikan kemudahan kepadaku dan hilanglah rasa takutku terhadap musuh di luar sana. Kemudian aku bersafar (pergi) hingga sampai di Iskandariyyah dengan perjalanan selama kurang lebih 30 hari dalam keadaan selamat. Dan aku mendapati Iskandariyyah dan kota-kota Mesir dalam keadaan mencekam, susah dan banyak musibah. Aku menetap di sana sepuluh hari dan Allah telah memecahkan pasukan musuh dan menetapkan kota aku temapti dengan tanpa gangguan sedikit pun dari musuh dengan kelembutan Allah yang Maha Pengasih dari Dzat yang Maha Pengasih. Kemudian Allah menyempurnakan kebaikan-Nya kepadaku dengan mentaqdirkanku sampai ke makam Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dan masjidnya setelah melakukan haji, DAN SUNGGUH DEMI ALLAH, AKU MELIHAT NABI DALAM KEADAAN SADAR PERSIS KEADANNYA SEBAGAIMANA AKU MELIHATNYA DALAM MIMPIKU TANPA ADA TAMBAHAN DAN PENGURANGAN SEDIKIT PUN “.

(AL-Mufhim lima asykala min talkhish kitabMuslim, juz 5 hal. 24-25, cetakan Dar Ibn Katisr dan Dar al-Kalim ath-Thayyib,Beirut)